<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="3131">
<titleInfo>
<title>Otonomi Tanpa Politik Ekologi :</title>
<subTitle>Catatan Atas Dinamika Otoda</subTitle>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Wijoyo, Suparto</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">Surabaya</placeTerm></place>
<publisher>Airlangga University Press</publisher>
<dateIssued>2009</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition>Cet. 1</edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Text</form>
<extent>x, 219 hlm.; ilus 14,5 x 20,5 cm</extent>
</physicalDescription>
<relatedItem type="series">
<titleInfo>
<title>Otonomi Daerah</title>
</titleInfo>
</relatedItem>
<note>Otonomi daerah yang berjalan tentu saja tidak boleh hanya sekedar menandakan ada yang berubah yang membedakan dengan tata pemerintahan masa Orde Baru yang beralih ke orde yang dibilang Orde Reformasi. Orde sekarang ini tetaplah harus berpijak pada pandangan paradigmatik yang fundamental terhadap ide otonomi sebagai upaya untuk berijtihad secara komprehensif untuk menata kehidupan kenegaraan yang lebih berkah. Dalam kerangka tata kelola lingkungan memang terdapat kritik keras bahwa pelaksanaan otonomi daerah tidak membawa perubahan yang berbenah lebih baik. Sementara itu pejabat pemerintah daerah justru berdalih lebih pragmatis lagi bahwa selama ini pemerintah pusatlah yang menguras kekayaan alam daerah; dan kini saatnya kamilah orang-orang daerah yang menikmati sumber daya alam yang kami punya ini. Perdebatan tersebut tentu saja akan terus berkembang dan sangat merugikan kepentingan lingkungan. Untuk itulah dibutuhkan politik lingkungan yang memformat lingkungan menjadi sentrum pembuatan kebijakan pembangunan. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus sama-sama memiliki satu visi satu misi dan satu aksi untuk menjadikan lingkungan sebagai variabel utama dalam menakar dan mengukur kinerja pemerintahan 
Buku ini meliputi 4 pokok permasalahan. Bab 1 mengajak kita untuk mengenali otonomi daerah. Bab 2 mengenai gelembung problem Pemda di era Otoda. Bab 3 mengenai organisasi perangkat daerah dan kuasa partai. Dan bab 4 mengenai otonomi dan politik ekologi.</note>
<subject authority=""><topic>Otonomi Daerah</topic></subject>
<classification>352.14 Wij o</classification><identifier type="isbn">9789791330558</identifier><location>
<physicalLocation>PERPUSTAKAAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS HANG TUAH SURABAYA Jalan Arif Rahman Hakim No.150 Surabaya</physicalLocation>
<shelfLocator>352.14 Wij o</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">AP20180212</numerationAndChronology>
<sublocation>S-1 (ADM. PUBLIK PERPUSTAKAAN FISIP UHT Rak 000-300)</sublocation>
<shelfLocator>352.14 Wij o</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:image>img230.jpg.jpg</slims:image>
<recordInfo>
<recordIdentifier>3131</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2021-03-03 14:58:05</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2021-03-03 14:59:06</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>