Detail Cantuman Kembali

XML

Otonomi Tanpa Politik Ekologi : Catatan Atas Dinamika Otoda


Otonomi daerah yang berjalan tentu saja tidak boleh hanya sekedar menandakan ada yang berubah yang membedakan dengan tata pemerintahan masa Orde Baru yang beralih ke orde yang dibilang Orde Reformasi. Orde sekarang ini tetaplah harus berpijak pada pandangan paradigmatik yang fundamental terhadap ide otonomi sebagai upaya untuk berijtihad secara komprehensif untuk menata kehidupan kenegaraan yang lebih berkah. Dalam kerangka tata kelola lingkungan memang terdapat kritik keras bahwa pelaksanaan otonomi daerah tidak membawa perubahan yang berbenah lebih baik. Sementara itu pejabat pemerintah daerah justru berdalih lebih pragmatis lagi bahwa selama ini pemerintah pusatlah yang menguras kekayaan alam daerah; dan kini saatnya kamilah orang-orang daerah yang menikmati sumber daya alam yang kami punya ini. Perdebatan tersebut tentu saja akan terus berkembang dan sangat merugikan kepentingan lingkungan. Untuk itulah dibutuhkan politik lingkungan yang memformat lingkungan menjadi sentrum pembuatan kebijakan pembangunan. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus sama-sama memiliki satu visi satu misi dan satu aksi untuk menjadikan lingkungan sebagai variabel utama dalam menakar dan mengukur kinerja pemerintahan
Buku ini meliputi 4 pokok permasalahan. Bab 1 mengajak kita untuk mengenali otonomi daerah. Bab 2 mengenai gelembung problem Pemda di era Otoda. Bab 3 mengenai organisasi perangkat daerah dan kuasa partai. Dan bab 4 mengenai otonomi dan politik ekologi.
Suparto Wijoyo
Wijoyo, Suparto - Personal Name
Cet. 1
352.14 Wij o
978-979-1330-55-8
352.14 Wij o
Otonomi Daerah
Text
Indonesia
Airlangga University Press
2009
Surabaya
x, 219 hlm.; ilus 14,5 x 20,5 cm
1 Eksemplar
LOADING LIST...
LOADING LIST...